Belajar Menjadi Miskin (Memahami Filosofi Seneca dan Stoicism)

Filosofi
Nouvend Setiawan
14 Des 2020
Mengenal filosofi seneca dan stoicism

Hello there, Perseners!

Mau jadi miskin gak? Hehe, kayaknya kalau aku nanya gitu, agak aneh ya. Gimana kalau gini, mau gak kamu jadi miskin biar bisa kaya? Loh, apaan tuh, miskin kok bisa kaya?

Coba kamu pikir-pikir sebentar. Apakah kamu pernah ngerasa takut kehilangan benda-benda yang kamu miliki, atau sering was-was kalau nanti tabunganmu habis terus kamu gak bisa lagi nikmatin hidup kayak sekarang?

Simply put, pernah gak kamu merasa takut jadi miskin? Pernah mikirin kayak, “gimana ya kalau ntar tiba-tiba duitku habis semua?”. Amit-amit sih, tapi aku rasa beberapa dari kamu mungkin pernah mikir kayak gitu.

Tenang, kamu gak perlu lagi merasa takut kalau-kalau suatu saat tiba-tiba menjadi miskin. Kamu bisa mengatasinya dengan belajar menjadi miskin! Wait, no, ini bukan berarti kamu lalu menjual barang-barangmu semuanya dan menjadi miskin.

Yuk, langsung aja kita bahas!

Stoicism dan Seneca

Pernah dengar soal Stoicism kan? Orang-orang biasa menyebutnya juga dengan filosofi teras. Stoicism ini adalah salah satu filosofi paling keren yang bisa kamu pake kalau sedang pengen cabut dari hingar-bingar kehidupan ini. Aku gak bakal bahas banyak soal stoicism secara keseluruhan di sini, tapi kalau kamu pengen tahu, kamu bisa nonton video ini!

Bangun, sekolah, kuliah, kerja, cari duit biar kaya, beli ini itu, lalu apa? Apa yang terjadi ketika kamu udah kaya?

With great power comes great responsibility.

Kamu yang suka Marvel pasti tahu quote ini. Semakin kita kaya, semakin kita memiliki tanggungan yang lebih, dan gak jarang tanggungan itu berupa rasa takut. Yep, takut nanti tiba-tiba kekayaan itu hilang terus gak bisa hidup lagi.

Di sinilah Seneca datang dengan memberikan pandangannya terhadap kekayaan dan kemiskinan. Seneca terkenal dengan stoicism-nya, dan dalam hal ini, dia memiliki sebuah pandangan bahwa sejatinya orang miskin itu lebih kaya. Mereka lebih damai dengan apa yang mereka miliki.

Berbeda dengan orang kaya, mereka cenderung hidup dalam ketakutan yang berlanjut akan kemiskinan yang selalu menghantui mereka.

Menurut Seneca, orang-orang kaya itu akan selalu dihantui dengan pikiran-pikiran kayak, “Duh gimana ya kalau nanti duitku habis, aku gak bisa ini gak bisa itu”. Ini terjadi karena orang kaya bakal cenderung takut kehilangan harta yang mereka miliki.

Sementara orang miskin bisa lebih santai dalam hidup karena mereka pada dasarnya ‘gak punya apa-apa’. Jadi gak perlu takut kehilangan.

Maka penting bagi kamu untuk belajar bagaimana sih hidup miskin itu, agar nanti kalau misalnya nasib buruk menimpamu, kamu udah lebih dari siap untuk menghadapinya.

Ok, enough talking, jadi apa tipsnya?

Tips Belajar Jadi Miskin

Kesederhanaan

Menurut Seneca, ada tiga cara yang bisa kamu lakukan, yang pertama adalah kesederhanaan. Kamu harus mencoba untuk menerapkan prinsip kesederhanaan dalam kehidupanmu sehari-hari.

Kalau kamu bisa makan kenyang dan enak seharga 15.000, kenapa harus delivery seharga 30.000? Kalau kamu bisa melewati hari tanpa membeli jajanan di minimarket, kenapa harus kamu beli?

Aku yakin, ada beberapa aspek dari gaya hidupmu yang bisa diubah kalau kamu menerapkan kesederhanaan dalam hidupmu. All that glitter is not gold!

Mempraktikkan Kemiskinan

Ini yang kurasa akan jadi agak sulit. Untuk belajar menjadi miskin, Seneca menganjurkan untuk gak hanya berandai-andai tentang situasi terburuk, namun secara langsung terjun ke dalam situasi buruk tersebut.

Coba aja, dalam seminggu, kamu harus hidup tanpa HP. Oke kalau terlalu ekstrim, coba sesuatu yang lebih ringan, tapi bener-bener selalu ada dalam hidupmu misalnya koneksi internet atau duit. Saat kamu mencoba hidup tanpa hal-hal tersebut, kamu akan menjadi lebih disiplin dan lebih teratur.

Bayangkan aja kamu pas lagi tanggal tua. Kamu pasti tiba-tiba jadi hemat banget yang sampe uang kembalian dari minimarket pun dihitung sampe koin-koinnya. Kamu jadi gak gampang tergoda jajan yang gak perlu. Baru nanti pas dapat duit bulanan, kamu langsung lega karena bisa kembali ke gaya hidupmu yang sebelumnya.

Apa sih yang kamu dapatkan dari momen-momen tanggal tua itu? Kamu jadi tahu bahwa sebenarnya kamu tuh bisa hidup dengan duit segitu. Kamu bisa hidup dengan barang-barang yang ‘hanya’ segitu. Tujuan dari mempraktikkan kemiskinan ini agar kamu bisa melatih untuk hidup tanpa hartamu, dan mengajarkanmu untuk bersyukur atas apa yang udah kamu miliki.

Ditambah lagi, hal ini bisa membantumu menghilangkan hasrat pengen beli barang yang sebenernya gak terlalu berguna. Karena ketika kamu udah selesai mempraktikkan kemiskinan dan kembali mendapatkan apapun itu yang kamu sembunyikan, kamu akan merasa kayak “Dahlah, ini aja udah cukup kok,”

meme stand up comedy

Nonchalance

Kalau diartikan jadi: sikap acuh tak acuh. Kok bisa?

Sebenarnya ini gak kayak yang dua di atas, ini lebih ke bagaimana kamu mengatur mindset-mu. Hal ini dijelaskan dengan baik oleh Seneca:

“Orang yang menggunakan peralatan makan kayu seakan itu adalah perak itu sama hebatnya dengan orang yang menggunakan peralatan makan perak seakan itu adalah kayu, karena ciri jiwa yang lemah adalah ketidakmampuan untuk menghadapi harta” - Seneca

Sederhananya ya, mau makan nasi campur kek, mau sushi kek, apa aja bisa, toh yang penting kenyang. Terus ya, kalau sama-sama bikin kenyang, tinggal masalah lagi kepengen yang mana atau bisanya beli apa. Gak usah dipikirin terlalu jauh.

Kenapa hal ini dapat membantu?

Karena dengan membangun mindset seperti ini, kamu bakal bisa lebih santai dalam mengambil keputusan hidup. Mau beli HP baru karena HP lama rusak. Bisanya beli yang harga 2 juta, tapi temen-temen pada make yang paling baru. Ya udah. Toh, bisanya juga memang yang 2 juta.

Gak perlu ikut-ikut temen atau trend. Ingat, nonchalance!

Kalau kamu merasa sedikit kesulitan untuk merubah atau membangun mindset, kamu bisa baca artikel ini atau tonton video ini!

Epicurus

Ketiga cara yang dianjurkan oleh Seneca ini emang agak mirip satu sama lain, tapi kurasa kamu pasti dapat memahami intinya. Poin utama Seneca adalah untuk kamu agar bisa hidup tanpa takut kehilangan harta bendamu, dan hal itu dicapai dengan belajar menjadi miskin.

Ketika kamu udah belajar menjadi miskin, kamu tahu gimana cara menghadapinya. Ditambah lagi, karena kamu tahu sebenernya kamu bisa-bisa aja hidup dengan limitation yang kamu buat sendiri, kamu akan lebih aware terhadap keputusan hidup yang kamu ambil.

Epicurus, seorang filsuf yang bisa dibilang adalah sisi berlawanan dalam satu koin yang sama dengan Stoicism, juga memiliki cara untuk mempraktikkan kemiskinan. Hanya saja ada perbedaan kecil dengan Seneca.

Epicurus fokus pada hal-hal apa yang sejatinya gak kamu butuhkan. Jadi, kalau Seneca itu soal hidup tanpa hal tertentu untuk menyiapkan diri, Epicurus lebih menekankan pada proses mencari tahu apakah kamu bener-bener butuh hal tersebut atau gak.

Contohnya nih, kamu coba hidup seminggu tanpa delivery makanan. Ada kemungkinan di akhir masa percobaan itu kamu bakal lupa soal delivery makan karena kamu udah terbiasa dengan masak di rumah. Atau mungkin hidup seminggu tanpa Instagram. Bisa jadi kamu ternyata baik-baik aja tanpa aplikasi tersebut.

Kamu jadi tahu, hal apa yang bisa kamu kurangi dalam hidupmu. Ini juga bisa membantumu untuk menabung, loh!

Jadi ya gitu, deh. Cobalah untuk belajar menjadi miskin! Kalau kamu merasa apa yang aku tulis di sini masih kurang, kamu boleh banget buat cek video ini!

Buat kamu yang sayang sama diri sendiri dan pengen berkembang satu persen setiap harinya, bisa banget untuk pantengin informasi menarik tentang mentoring, konseling, kelas online, dan webinar-webinar keren dari Satu Persen di Instagram dengan follow @satupersenofficial.

CTA-Online-Class-for-Blog-Posts---Copy-03-2-8

Selain itu, buat kamu juga bisa menjelajahi artikel menarik lainnya dengan langsung kunjungi blog Satu Persen. Jangan lupa juga buat subscribe channel YouTube Satu Persen untuk nonton video menarik tentang kesehatan mental dan self development. Oke?

Akhir kata, semoga tulisanku ini berguna, ya! Buat kamu yang membaca artikel ini, aku harap dengan tulisan ini kamu bisa berkembang jadi lebih baik menuju #HidupSeutuhnya, setidaknya Satu Persen setiap harinya!

Thank you!

References

Daily Stoic. (n.d). Poverty Is Good For One Thing. Retrieved from Daily Stoic: https://dailystoic.com/poverty-good-one-thing/

Hänggi, R. (2015, September 4). Practicing poverty. Retrieved from theminimalistcoder: https://theminimalistcoder.com/articles/practicing-poverty

Rosivach, V. J. (1995). Seneca on the Fear of Poverty in the Epistulae Morales. L'Antiquité Classique, 91-98.

Bagikan artikel

Disclaimer

Jika Anda sedang mengalami krisis psikologis yang mengancam hidup Anda, layanan ini tidak direkomendasikan.

Silakan menghubungi 119.