GHQ Test: Kenali Gejala Fisik Kamu Depresi

Kesehatan Mental
Keysha Arum Perdana
12 Apr 2021
kenali-gejala-fisik-kamu-depresi
Satu Persen - Sakit Fisik atau Depresi

Hi, Perseners! Selamat datang di artikel aku, ya. Buat yang belum kenal, aku, Keysha, dan di sini sebagai Associate Writer.

Nah, Perseners, ada nggak, sih, yang sering kepikiran soal kondisi well-being kalian sebagai manusia? Misalnya ketika kalian sering pusing, sakit perut, mual, atau mungkin sakit punggung terus kalian jadi mikir “sebenarnya gue sakit fisik biasa atau jangan-jangan depresi ya?”

Hmm, emang, sih, isu mengenai depresi ini belum sepenuhnya diperhatikan sama orang-orang terutama yang menyangkut gejala secara fisik.

Seringkali, orang-orang di sekitar kita atau bahkan diri kita sendiri pun masih jarang yang aware sama hal tersebut dan menganggap gejala itu sebagai sakit fisik biasa.

Tapi, apa iya beneran kayak gitu? Gimana kalau seandainya sakit fisik yang kalian alami itu merupakan gejala-gejala kalau sebenarnya kondisi mental kalian lagi nggak sehat?

Photo by: Freepik
Photo by: Freepik

Oleh karenanya, di artikel kali ini aku akan bahas, sebenarnya ada nggak sih gejala-gejala fisik yang menandakan depresi dan gimana cara untuk membedakan apakah kita sakit fisik biasa atau bukan.

So, baca artikel ini baik-baik, ya!

Aku Sakit Fisik atau Depresi?

Depresi.

Kalian pasti udah familiar banget sama satu kata itu. Meskipun familiar, tapi mungkin diantara kalian masih ada yang belum paham sama gejala-gejala dari depresi ini.

Seringkali, orang yang memiliki depresi mengalami gejala-gejala yang berkaitan dengan aspek emosional. Misalnya, sedih terus menerus, merasa putus asa, mood yang gampang berubah, susah berkonsentrasi, dan lain sebagainya.

Photo by: Freepik
Photo by: Freepik‌‌

Tapi, ternyata gejala depresi nggak hanya sebatas aspek emotional melainkan juga aspek fisik dan ini udah dibuktikan sama penelitian. Sebuah penelitian dari Madhukar H. Trivedi, bilang kalau depresi ini bisa menimbulkan gejala fisik yang menyakitkan.

Munculnya gejala fisik tersebut dikarenakan depresi dan rasa sakit memiliki jalur neuro-kimiawi yang sama, keduanya dipengaruhi oleh serotonin dan norepinefrin.

Sayangnya, orang-orang masih banyak yang belum aware akan hal ini. Nggak jarang juga di dalam masyarakat depresi ini masih dianggap sebagai sesuatu yang tabu atau mitos.

Pernah nggak, sih, kalian denger cerita dari temen-temen kalian atau mungkin kalian ada yang mengalami sendiri–pas kalian concern tentang kondisi fisik kalian dan takut kalau itu merupakan gejala depresi, terus respon orang-orang cuma “ah, perasaan lo aja kali.” atau yang lebih parahnya “lo kurang ibadah kali, makanya sampe ngerasa kayak gitu.”

Padahal, gejala fisik yang dialami bisa menjadi tanda-tanda awal apakah kalian punya kecenderungan untuk mengalami depresi atau nggak.

Hal ini seharusnya dapat digunakan untuk melakukan usaha preventif bukannya malah menganggap depresi sebagai suatu hal yang nggak real dan mitos.

Secara umum, semakin parah gejala fisik yang dialami, kemungkinan besar semakin parah juga tingkat dari depresinya. Nah, simak yuk, kira-kira apa aja, sih, gejala fisik dari depresi.

Baca juga: Cara Mengatasi Depresi Secara Mandiri

Apa Aja Gejala Fisik dari Depresi?

1. Kelelahan secara terus-menerus

Kelelahan ini adalah hal yang wajar dialami semua orang. Tapi, ada sedikit perbedaan antara kelelahan karena abis menjalani aktivitas sehari-hari dengan kelelahan yang merupakan indikasi dari depresi. Kelelahan yang merupakan indikasi depresi terjadi secara konsisten.

Menurut Dr. Maurizio Fava, seorang Direktur di Clinical Research Program, Rumah Sakit Umum Massachusetts, bilang kalau seseorang yang mengalami depresi akan tetap merasa lelah ketika bangun pagi meskipun orang itu udah tidur dengan waktu yang cukup.

Rasa lelah ini seringkali menyebabkan kita sulit untuk berkonsentrasi, mudah tersinggung, apatis, dan rasanya berat banget untuk menjalani aktivitas sehari-hari.

2. Nyeri punggung atau nyeri otot di sekujur tubuh

David Robertson dan kawan-kawannya melakukan penelitian untuk mengetahui apakah ada hubungan antara nyeri punggung bawah dengan depresi dan somatisasi, dan hasil penelitian menyatakan ada–depresi dan somatisasi bisa menyebabkan seseorang mengalami nyeri punggung bagian bawah.

Hal ini bisa dijelaskan karena depresi dapat melemahkan respon sistem kekebalan tubuh terhadap infeksi dan penyakit. Jika sistem kekebalan tubuh kita lemah, otomatis kita akan lebih rentan untuk mengalami rasa sakit, seperti nyeri punggung, nyeri otot, atau bahkan penyakit yang lain.

3. Sakit Kepala

Gejala yang satu ini mungkin terkesan sepele karena emang mayoritas orang pernah mengalaminya. Saking umumnya, banyak dari kalian yang justru nggak aware kalau sakit kepala yang dialami bisa jadi bukan sakit kepala biasa.

Perlu kalian perhatikan apabila sakit kepala yang kalian alami terjadi hampir setiap hari secara konsisten karena bisa jadi ini suatu indikasi awal kalian mengalami depresi.

Sakit kepala yang mengarah ke indikasi depresi dikenal dengan nama “tension headache. Meskipun, belum tentu semua tension headache itu berarti tanda depresi, loh, ya!

Namun, nggak ada salahnya kalau mulai dari sekarang kalian belajar menanamkan awareness ke diri sendiri soal hal-hal kayak gini.

4. Penurunan penglihatan

Ada sebuah penelitian dari Jerman tentang gimana depresi bisa mengubah persepsi penglihatan seseorang.

Hasil penelitian itu bilang kalau orang yang mengalami depresi berat secara signifikan kurang bisa mendeteksi perbedaan kontras warna hitam dan putih di papan catur. Fenomena ini namanyacontrast perception”.

5. Sakit perut atau masalah pencernaan

Sebuah penelitian dari Harvard Medical School bilang kalau seseorang yang mengalami perut kram, kembung, dan mual bisa jadi lagi mengalami tanda-tanda depresi.

Kok bisa? Emang gimana hubungannya?

Gini, ada sebuah fenomena yang dinamakan gut-brain connection. Simpelnya, fenomena ini tuh menjelaskan bahwa perut kita itu penuh dengan bakteri baik dan kalau ada ketidakseimbangan bakteri baik, gejala kecemasan dan depresi bisa aja muncul.

Nah, kalau kalian mau penjelasan yang lebih detail, bisa nonton video di bawah ini, ya, karena temen-temen Satu Persen juga udah pernah bahas topik ini di channel Youtube.

Youtube Satu Persen - Cara Agar Kesehatan Mental Terjaga dengan Pola Makan

GHQ Test oleh Mentor Satu Persen: Say No to Self-diagnosis!

Perseners, kalian tau nggak, sih, kalau menurut penelitian pada tahun 2000 depresi itu adalah penyebab masalah kesehatan tertinggi keempat di dunia. Artinya, dari situ kita bisa melihat bahwa sejak dulu depresi ini adalah permasalahan serius yang seharusnya ditangani dengan tepat.

Untuk bisa menangani masalah depresi dengan efektif, tentunya para tenaga ahli profesional juga memerlukan seperangkat alat ukur yang bisa mendeteksi gejala-gejala depresi, baik gejala minor maupun mayor.

Nah, di artikel kali ini aku cuma akan bahas tentang alat ukur yang digunakan untuk mendeteksi kecenderungan awal depresi, ya. Jadi, ada sejumlah alat ukur singkat namun akurat yang secara efektif digunakan untuk mengukur gejala-gejala depresi.

Sebenarnya, ada lebih dari satu jenis alat ukur, tapi, di artikel kali ini aku akan bahas soal General Health Questionnaire (GHQ).

Nah, GHQ ini aslinya ada beberapa versi pertanyaan, namun yang paling banyak dipakai adalah GHQ-12. Angka 12 disini artinya pada alat ukur tersebut ada 12 pertanyaan yang digunakan untuk menilai kondisi mental kalian.

Scoring yang digunakan dalam GHQ yaitu range angka 0 sampai dengan 36. Secara umum, semakin besar hasil score yang diperoleh, maka kecenderungan awal gangguan mental orang tersebut juga semakin besar.

Emang apa spesialnya GHQ? Kok nggak pake alat ukur yang lain aja?

Sesuai dengan namanya, General Health Questionnaire yang kalau dibahasa Indonesiakan menjadi Kuesioner Kesehatan Umum, tentunya ini mengukur kondisi kesehatan mental kalian secara umum.

Sebelum bisa memberikan diagnosis lebih lanjut, para tenaga ahli profesional, seperti psikolog misalnya, pasti memerlukan penilaian tahap awal dulu mengenai kecenderungan kondisi mental seseorang.

Gini, gini….bayangin kalian sakit terus pergi ke dokter. Kalian pergi ke dokter karena ada gejala-gejala yang kalian rasakan, tapi bisa jadi kalian belum bener-bener tau kalian itu sebenarnya sakit apa.

Makanya, pas sampe di rumah sakit pihak administrasi mengarahkan kalian ke dokter umum, tujuannya buat melakukan pemeriksaan tahap awal.

Nah, baru dari pemeriksaan tahap awal itu, kalau sekiranya ada indikasi kalian mengalami penyakit yang lebih serius, dokter umum tersebut pasti akan mengarahkan kalian untuk periksa ke dokter spesialis di bidang tertentu.

Sama halnya dengan penggunaan GHQ. Alat ini bisa membantu untuk mendeteksi kecenderungan awal kondisi mental seseorang yang sifatnya ringan, sebelum diberikan diagnosis lebih lanjut.

Selain itu, GHQ nggak cuma mengukur kecenderungan awal depresi aja, melainkan alat ini juga mengukur kecenderungan awal kecemasan, gangguan sosial, dan hilangnya kepercayaan diri secara bersamaan. Nah, kalian bisa liat gambar di bawah ini, ya, biar lebih paham.

Gambar General Health Questionnaire
Gambar General Health Questionnaire

Di sini aku juga mau mengingatkan, kalau GHQ ini nggak boleh digunakan oleh sembarang orang loh, ya. Untuk bisa memperoleh tes ini harus dilakukan oleh tenaga ahli profesional yang emang punya kualifikasi tertentu, contohnya kayak mentor-mentor Satu Persen.

Layanan konsultasi bersama Psikolog Satu Persen menggunakan GHQ setelah sesi konsultasi selesai. Nantinya, hasil dari GHQ ini bisa digunakan untuk melihat kondisi kesehatan mental kalian, apakah sekiranya perlu penanganan lebih lanjut oleh psikolog Satu Persen atau nggak.

Buat informasi selengkapnya terkait layanan Konseling Online bareng Psikolog dari Satu Persen bisa langsung aja klik gambar dibawah ini!

Satu-Persen-Artikel--30--2

Jadi, apabila kalian mengalami gejala-gejala fisik kayak yang aku jelasin di atas dan kalian concern terhadap hal itu, nggak ada salahnya kalau kalian minta bantuan langsung ke orang-orang yang emang berpengalaman menangani hal-hal semacam itu.

Atau, kalau masih ragu soal layanan konsultasi apa yang paling cocok buat keadaan kalian saat ini, kalian bisa coba Tes Gratis dari Satu Persen untuk memastikan.

Akhir kata, aku mau ngingetin kalian kalau membangun awareness terhadap kondisi mental diri sendiri itu penting banget. Kalau kalian merasa kesulitan dan butuh bantuan, jangan self-diagnosis, please seek for help, oke?

Sekian dari aku–stay healthy, stay safe & stay sane!~

Referensi:

Fraga, Juli. 2019. "The 7 Physical Symptoms Of Depression We Rarely Talk About". Healthline. Accessed February 7, 2021. https://www.healthline.com/health/mental-health/physical-symptoms-of-depression#1.-Fatigue-or-consistent-lower-energy-levels.

Gao, Fei et al. 2004. "Does the 12-item General Health Questionnaire contain multiple factors and do we need them?". Health and Quality of Life Outcomes 2 (1): 63. Springer Science and Business Media LLC. doi:10.1186/1477-7525-2-63.

Schimelpfening, Nancy. 2020. "Physical Effects Of Depression". Verywell Mind. Accessed February 7, 2021. https://www.verywellmind.com/physical-effects-of-depression-1066890.

Trivedi, Madhukar H. 2004. "The Link Between Depression and Physical Symptoms". Prim Care Companion J Clin Psychiatry 6 (1): 12-16. NCBI. doi:PMC486942.

Bagikan artikel

Disclaimer

Jika Anda sedang mengalami krisis psikologis yang mengancam hidup Anda, layanan ini tidak direkomendasikan.

Silakan menghubungi 119.