Untuk Kamu yang Sedang Hidup dalam Ketidakpastian

Artikel Terbaik
Rachel Christi Thiadi
29 Des 2020

Halo Perseners! Gimana kabar kamu saat ini? Semoga kamu baik-baik saja ya!

Di masa pandemi kayak gini, mungkin banyak banget hal yang berubah dari kehidupan kita. Mulai dari rutinitas sehari-hari yang serba hati-hati karena harus jaga jarak, sampai peluang-peluang baru yang terkesan menghilang. Kondisi keuangan jadi sulit, tapi di satu sisi, kita susah banget buat cari kerja. Relasi pertemanan kita juga berkurang satu persatu karena jarak yang ada.

Kehidupan kita seperti bergerak ke arah yang gak menentu. Kita gak tau berapa lama pandemi ini akan berlangsung. Kita juga gak tau apakah semua hal bisa terjadi seperti sedia kala. Hal-hal ini membuat kita takut dan khawatir dengan ketidakpastian yang ada. Bisa dibilang, ketidakpastian ini membuat kita gak nyaman karena kita merasa kehilangan kendali atas hidup.

Saat ini, aku sendiri berada di posisi dimana aku takut dengan apa yang akan terjadi ke depannya. Selama pandemi, aku gak paham sama materi kuliah yang disampaikan karena metode belajar yang serba mandiri. Aku jadi takut kalau aku gak bisa lulus dengan baik semester ini, apalagi aku udah mau masuk tahun terakhir. Jadi, aku harus benar-benar mempersiapkan diri supaya bisa dapat kerja yang baik.

Selain itu, aku juga takut kehilangan relasi dengan teman-temanku. Karena sejak pandemi, relasi kita rasanya jadi renggang. Kalau ngobrol lewat chat, pasti gak bisa curhat yang intim kayak pas ketemu langsung.

Ditambah, semua orang punya kesibukannya masing-masing di rumah. Hal-hal kayak gini bikin aku cemas dan khawatir kalau pertemananku gak bisa bertahan lama.

Rasanya, emang susah banget sih untuk menyesuaikan diri. Tapi, aku mau mengingatkan bahwa gak apa-apa kalau kita takut dengan kehidupan kita ke depannya. Gak apa-apa kalau kita merasa kehilangan kendali atas hidup kita. We’re in this together.

Hidup Tidak Pasti
"we're in this together"

Sebelum membahas lebih lanjut, aku mau mengingatkan kalau sebenarnya ketakutan yang sama-sama kita rasain ini wajar banget. Beberapa teori psikologi juga menyatakan hal yang serupa.

Pada dasarnya, emang otak kita didesain untuk bereaksi secara negatif terhadap ketidakpastian karena hal ini berhubungan dengan proses evolusi.

Hidup dalam Ketidakpastian: Bagaimana rasa takut apabila ditinjau dari perspektif evolusi?

Sejak zaman nenek moyang kita, manusia mampu untuk mempertahankan hidup karena kita dapat merencanakan segala sesuatu. Saat kecil, kita selalu diajarkan untuk percaya bahwa rencana kita pasti berhasil karena kita dapat memprediksi “dunia”. Oleh sebab itu, ketidakpastian sangat bertentangan dengan natur manusia.

Pada kondisi normal, kita dapat mengumpulkan sumber daya yang sesuai untuk menerapkan rencana kita. Namun, apabila kondisi tidak berjalan sebagaimana mestinya, kita dapat mengalami emosi negatif yang berlebihan, seperti perasaan stres.

Emosi negatif ini muncul sebagai proses yang terjadi di otak kita. Jadi, di otak kita ada hormon yang disebut dopamin. Dopamin adalah zat kimia yang merespon “reward” dan penghargaan. Jika dihadapkan dengan rangsangan tertentu, dopamin akan mengirimkan sinyal ke struktur otak yang bernama striatum.

Striatum sendiri adalah pusat perilaku. Striatum bertugas untuk menentukan respon perilaku, baik perilaku positif dan negatif, berdasarkan sinyal yang dikirimkan oleh dopamin.

Sebagai contoh: Orang yang hobi minum minuman keras. Dopamin akan menganggap miras sebagai sebuah “reward” berupa pelarian terhadap permasalahan hidup yang sedang dialami. Stimulus ini akan dikirimkan ke striatum, sehingga striatum menghasilkan perilaku mabuk.

Dalam kaitannya dengan ketidakpastian, striatum dapat berfungsi untuk menentukan kemungkinan-kemungkinan dari sebuah kejadian, baik kemungkinan baik atau kemungkinan buruk. Apabila kita mengetahui kemungkinan baik dari sebuah kejadian, maka perilaku kita akan meningkat. Begitu pula sebaliknya.

Ketika kita dihadapkan dengan ketidakpastian, striatum harus menentukan perilaku tertentu, padahal striatum tidak mengetahui kemungkinan-kemungkinan yang ada. Oleh sebab itu, striatum malah mengaktifkan respon perilaku fight-or-flight.

Respon fight-or-flight ini memberikan kita pilihan untuk menghadapi permasalahan atau melarikan diri dari permasalahan tersebut. Respon fight-or-flight ini juga dapat menghasilkan perubahan-perubahan dalam tubuh, seperti: membuka kelenjar keringat, membesarkan pupil, dan memberi energi pada otot-otot tubuh.

Respon Ketakutan Atas Hidup Tidak Pasti
fight of flight

Pada akhirnya, respon fight-or-flight akan segera segera berakhir ketika permasalahan berakhir atau kondisi kembali ke keadaan normal. Tetapi, ketidakpastian yang kita alami saat ini adalah kondisi yang berlangsung terus menerus dan belum berakhir. Oleh sebab itu, tubuh kita terus menerus dalam kondisi siaga.

Hal-hal ini akhirnya menyebabkan kita mudah takut dan cemas seperti pengalaman yang telah aku ceritakan di awal.

Nah, setelah mengetahui hal ini, pertanyaan selanjutnya adalah:

Apa saja yang bisa kita lakukan dalam menghadapi hidup yang tidak pasti?

Aku ingin membagikan beberapa tips yang dapat kita lakukan bersama-sama.

1. Belajar Menyibukkan Diri untuk Mencegah Hidup Tidak Pasti

Daripada terus-terusan berfokus pada masa depan, lebih baik posisikan dirimu pada kondisi saat ini.

Kamu bisa mulai dengan melatih mindfulness dan meditasi karena kedua hal ini dapat membantu kita untuk memfokuskan atensi pada kondisi saat ini. Untuk caranya sendiri, kamu dapat menonton video Satu Persen yang berjudul “Cara Mengatasi Emosi Negatif (Mindfulness dan Meditasi)” di bawah ini.

Selain itu, kamu juga bisa mulai mengisi waktu dengan melakukan hal-hal yang membantu kamu untuk berkonsentrasi, seperti: melukis, mendengarkan musik, ataupun melakukan aktivitas fisik. Aktivitas-aktivitas ini dapat membantu kamu untuk lebih tenang.

2. Berusaha Optimis dalam Hidup yang Tidak Pasti

Daripada mengasumsikan hal-hal buruk yang akan terjadi, kamu bisa belajar untuk menerima keadaan apapun yang akan terjadi.

Kamu bisa mulai dengan melakukan self-talk, atau berkomunikasi dengan diri sendiri. Coba katakan bahwa:

“Aku baik-baik saja.”

“Semua ini akan berakhir.”

“Walaupun hal-hal yang terjadi nanti tidak berjalan sesuai ekspektasiku, aku pasti bisa menghadapi hal-hal tersebut.”

Jika kamu terus berusaha untuk tetap optimis, lama-kelamaan sifat optimis ini akan berkembang menjadi sifat resilien. Sifat resilien merujuk pada sifat tahan uji dan dapat beradaptasi terhadap setiap permasalahan dan ancaman yang menyebabkan stres. Dengan sifat resilien ini, kamu dapat menjadi sosok yang lebih tangguh.

resilien di hidup yang tidak pasti
meme resilien

3. Menerima Kondisi Hidupmu yang Tidak Pasti Ini

Kamu bisa belajar untuk “merasa nyaman” dengan ketidakpastian. Anggap saja peristiwa yang kamu alami sebagai sarana untuk belajar menghadapi ketidakpastian, karena ada pepatah yang pernah bilang kalau:

“the more you learn, the more you can handle it.”

Pada kenyataannya, memang kamu gak bisa mengontrol pandemi ini atau apa yang akan terjadi ke depannya. Tapi kamu selalu dapat mengontrol pikiranmu sendiri terhadap kondisi yang kamu hadapi saat ini.

Jika kamu mengalami kesulitan dalam mengatasi rasa takut dan cemas yang kamu alami, aku ingin mengingatkan bahwa hal ini wajar banget untuk kamu alami. Karena pada dasarnya, kita memiliki banyak keterbatasan dan kekurangan. Kamu belum tahu apa kelebihan dan kekuatanmu? Coba deh ikut tes super power check.

Satu Persen hadir untuk untuk membantu kamu mengatasi kekurangan, supaya kamu dapat mengembangkan diri menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Di sini, aku mau ajak teman-teman untuk ikut layanan Konsultasi dengan Mentor Satu Persen.

Dengan ikut layanan ini, kamu bisa konsultasi one-on-one dengan mentor-mentor terlatih lulusan S1 Psikologi, yang terlatih dan udah berpengalaman banget mengatasi permasalahan ratusan orang.

Sebelum sesi konsultasi ini, kamu akan mendapatkan psikotes beserta interpretasinya. Dengan interpretasi psikotes ini, kamu bisa semakin mengenali dirimu sendiri.

Gak sampai di situ, setelah konsultasi sendiri, kamu bisa mendapatkan worksheet atau lembar kerja yang berisi panduan supaya kamu bisa meregulasi emosi negatif yang dialami. Dengan worksheet ini, kamu akan diarahkan untuk mengidentifikasi perasaan yang kamu alami.

Selain itu, kamu akan dipandu untuk menjawab beberapa pertanyaan yang dapat membantu kamu untuk lebih aware dengan emosi yang dialami.

Kalau kamu tertarik untuk ikut layanan konsultasi ini, kamu bisa daftar di satupersen.net. Kamu juga bisa follow Instagram kita di @konsultasi.satupersen untuk mengetahui promo-promo menarik dari kita.

Jangan lupa buat nantikan terus informasi menarik tentang kesehatan mental dan self development dari Satu persen di channel Youtube Satu Persen. Kamu juga bisa cari tahu berbagai layanan menarik lainnya dari Satu Persen di Instagram, Podcast, dan blog Satu Persen ini tentunya.

Terakhir, aku ingin menutup artikel ini dengan sebuah quote dari Self-Knowledge Book-nya Satu Persen.

self knowledge book: mengatasi hidup yang tidak pasti
self knowledge book Satu Persen

Kita pasti bisa menghadapi pandemi ini! Yuk, bisa yuk!

Sekian dari aku, aku harap dengan membaca artikel ini kamu bisa berkembang menjadi lebih baik menuju #HidupSeutuhnya, setidaknya Satu Persen setiap harinya

Thank you!!!

Referensi:

Cherry, K. (2019, Agustus 18). How the fight-or-flight response works. Very Well Mind. https://www.verywellmind.com/what-is-the-fight-or-flight-response-2795194.

Lewis, M. (2016, April 4). Why we’re hardwired to hate uncertainty. The Guardian. https://www.theguardian.com/commentisfree/2016/apr/04/uncertainty-stressful-research-neuroscience.

Morgan, K. (2020, November 5). How to function in times of uncertainty. BBC. https://www.bbc.com/worklife/article/20201104-how-to-function-in-times-of-uncertainty.

Bagikan artikel

Disclaimer

Jika Anda sedang mengalami krisis psikologis yang mengancam hidup Anda, layanan ini tidak direkomendasikan.

Silakan menghubungi 119.